default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Prostitusi Online Menggejala, Dimanakah Peran Media?

Prostitusi Online Menggejala, Dimanakah Peran Media?
Suara Pembaca
Foto Penulis: Fatimatussany S.Kep
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Oleh. Fatimatussany S.Kep

(Mahasiswa Ners Universitas Muhammadiyah Jember)

 

Ada yang benci dirinya

Ada yang butuh dirinya

Ada yang berlutut mencintanya

Ada pula yang kejam menyiksa dirinya


Kini hidup wanita si kupu-kupu malam

Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga

Bibir senyum kata halus merayu memanja

Kepada setiap mereka yang datang

Penggalan lirik lagu diatas menggambarkan perjuangan seorang wanita mencari sebongkah penyambung hidup. Apapun dilakukan agar bisa menyambung nyawa. Nampaknya hal ini sama seperti kasus yang sedang dialami oleh VA yang ditangkap di sebuah hotel di Surabaya. Hotel tersebut dikabarkan dijadikan sebagai tempat prostitusi online (kompas.com).

Kasus seperti ini sebenarnya sudah tak asing lagi di negeri ini, tetapi hari ini kasus ini begitu mencuat di jagat media. Mengingat saat ini kita berada di abad 21, yang disebut dengan revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak, mengutip pendapat Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya “The Fourth Industrial Revolution”.

Survey dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) tahun 2016 menyebutkan pengguna internet di Indonesia 132.7 juta (51.8 persen), dari jumlah tersebut ada 97.4 persen pengguna sosial media. Kunjungan pengguna aktif twitter berjumlah 7,2 juta, sementara facebook 71,6 juta. Sedangkan Menurut penelitian yang dilakukan We Are Social yaitu perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite di tahun 2018, rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial (kompas.com).

Data tersebut menunjukkan betapa pesatnya penggunaan media sosial di era disruptif ini. Tapi jika kita menengok di sisi yang lain, ternyata penggiat media sosial media menjadikan sosial media sebagai ajang mencari pendapatan. Salah satunya adalah kegiatan prostitusi online. Sebagaimana yang diilansir dari Tribunwow.com para penyedia jasa layanan kencan kilat untuk melepas syahwat, mayoritas menjadikan media sosial (medsos) sebagai media promosi. Di antaranya, yang paling populer adalah melalui facebook (fb) dan twitter.

Ada yang secara terang-terangan menawarkan jasa layanan seks kilat berbayar, tak sedikit pula yang tersamar dengan menggunakan kode butuh uang (BU) dalam statusnya. Sementara, untuk di Twitter, mereka cenderung menggunakan jasa promosi dari akun alternatif (alter), yang banyak bertebaran. Untuk menyamarkan identitas, foto-foto yang di-share di medsos cenderung disensor di bagian wajah.

Sedangkan menurut undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik nomor 19 tahun 2106 seseorang akan terjerat hukuman ITE yang tertuang pada pasal-pasal yang terkandung didalamnya apabila menggunakan sosial media dengan tidak semestinya, diantaranya melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan dan atau pencemaran nama baik, pemerasan dan atau pengancaman, menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, menyebarkan kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Jika kita perhatikan, tak ada satupun pasal yang menegaskan adanya pengaturan terhadap layanan jasa seks online atau yang bisa disebut prostitusi online. Padahal kasus ini sudah ada sejak lama dan kini semakin merebak dan banyak meresahkan jagat raya karena kegiatan tersebut melanggar norma yang berlaku di masyarakat.

Mengapa kiranya kasus ini tetap “langgeng” bahkan merabak di jagat raya? Pertanyaan ini terjawab dengan adanya pemegang kekuasaan sosial media saat ini, yakni para kapital. Mereka menjadikan sosial media sebagai ajang mencari pendapatan, mereka tawarkan berbagai macam jasa yang bisa digunakan oleh pengguna sosial media. Tak menghiraukan  norma agama dan sosial yang berlaku di negara yang mereka sasar, asalkan mereka mendapat keuntungan.

Selain itu, negara juga tidak mempunyai ketegasan yang jelas dalam menangani kasus ini. Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang berlaku pun tak punya keleluasaan dalam menangani masalah ini, justru undang-undang tersebut mewadahi dan membiarkan prostitusi online terus ada.

Pantas saja jika kasus prostitusi online tak kunjung usai karena sebenarnya tidak ada pengaturan yang jelas terhadap media yang ada. Kalau negara kita tidak mempunyai pengaturan media yang cukup apik, lantas dimana peran media?

 


Kontributor : Suara Pembaca
Editor : Nanang Habibi
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar